Adab Menanggapi Berita Berdasarkan Surah Al-Hujurat
Di era digital seperti sekarang, informasi mengalir tanpa henti ke gawai kita setiap detik. Mulai dari kabar viral di media sosial, isu-isu di grup WhatsApp, hingga obrolan di koridor sekolah. Sayangnya, tidak semua informasi yang kita terima itu benar. Banyak di antaranya berupa rumor, gosip, bahkan berita bohong (hoax) yang sengaja disebarkan untuk memicu perpecahan.
Sebagai seorang muslim dan pelajar yang berpendidikan, bagaimana seharusnya kita menyikapi banjiran informasi ini?
Al-Qur'an telah memberikan panduan emas yang sangat relevan melalui Surah Al-Hujurat. Surah yang sering dijuluki sebagai "Surah Adab" ini menggariskan aturan jelas tentang bagaimana cara cerdas dan beradab dalam menanggapi suatu kabar.
1. Budayakan Tabayun (Cek dan Ricek)
Pilar utama dalam menerima informasi tertuang jelas dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.
Ayat ini memerintahkan kita untuk melakukan tabayun—artinya memeriksa, meneliti, dan mengonfirmasi kebenaran sebuah berita sebelum memercayainya, apalagi menyebarkannya.
Di lingkungan sekolah, tabayun bisa dipraktikkan dengan cara:
-
Tidak langsung memercayai kabar burung tentang teman atau guru.
-
Jika mendengar isu yang merugikan seseorang, tanyakan langsung ke sumbernya secara baik-baik, atau laporkan ke guru BK/wali kelas untuk diklarifikasi.
-
Jangan asal share atau membagikan postingan yang belum jelas validitasnya.
Baca juga : Etika Bermedia Sosial: Menjaga Lisan dan Adab di Ruang Digital
2. Hindari Prasangka Buruk (Su'udzon)
Seringkali, berita yang belum jelas kebenarannya memicu kita untuk langsung mengambil kesimpulan negatif. Terkait hal ini, Allah SWT mengingatkan di ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…
Membaca berita dengan kepala panas hanya akan melahirkan fitnah. Adab yang benar adalah mengedepankan asas praduga tak bersalah. Bersihkan hati dari penyakit ingin menjatuhkan orang lain saat menerima suatu kabar.
3. Jangan Mencari-Cari Kesalahan dan Bergunjing
Masih di ayat yang sama (ayat 12), Allah melanjutkan larangannya:
سُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ
…Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing (ghibah) sebagian yang lain…
Ketika ada berita tentang kesalahan atau aib seseorang yang tersebar, adab Islam melarang kita untuk menjadi "detektif" yang sengaja mengorek-ngorek kesalahan tersebut agar semakin viral. Menjadikan berita negatif atau aib orang lain sebagai bahan gunjingan di tongkrongan sekolah adalah perbuatan yang sangat tercela.
4. Sadari Dampak Bahayanya: Penyesalan
Kenapa Al-Qur'an begitu ketat mengatur adab menerima berita? Jawabannya ada di akhir ayat 6:
فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
...maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.
Menelan mentah-mentah dan ikut menyebarkan berita bohong bisa menghancurkan nama baik seseorang, memutus tali pertemanan, bahkan merusak nama baik sekolah. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, yang tersisa hanyalah rasa bersalah dan penyesalan yang tidak ada gunanya.
Kesimpulan: Menjadi Pelajar Cerdas Digital
Menjalankan adab berdasarkan Surah Al-Hujurat di masa kini berarti kita harus menjadi orang yang skeptis secara positif terhadap informasi yang berseliweran.
Sebelum jempol kita menekan tombol share, atau sebelum mulut kita ikut menyebarkan kabar, ingatlah prinsip sederhana ini: Saring sebelum sharing. Teliti sebelum memercayai. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga diri dari dosa, tetapi juga ikut menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan harmonis.