Ingin Ilmu Berkah? Simak Nasihat Penting dari Kitab Al-Ala Ini
Ingatlah, kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara... Kecerdasan, semangat, kesabaran, bekal, petunjuk guru, dan waktu yang lama.
Mencari ilmu bukan cuma soal mendapatkan nilai bagus di rapot atau hafal sekian juz Al-Qur'an. Lebih dari itu, yang paling kita butuhkan sebagai seorang muslim adalah keberkahan ilmu di mana ilmu tersebut bisa mengubah perilaku kita menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.
Bicara soal keberkahan ilmu, para santri dan siswa di pesantren pasti sudah tidak asing lagi dengan Kitab Al-Ala (Nadzom Al-Ala). Kitab bait syair yang ringkas namun sarat makna ini menyimpan rahasia besar tentang bagaimana cara mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat.
Yuk, simak 6 syarat utama mencari ilmu menurut Kitab Al-Ala agar belajarmu semakin berkah!
1. Dzuka’in (Kecerdasan)
Kecerdasan di sini bukan berarti kamu harus lahir sebagai orang jenius. Kecerdasan dalam menuntut ilmu terbagi dua: pemberian dari Allah (hibbi) dan yang bisa diusahakan (kasbi). Selama kamu mau terus mengasah otak, fokus mendengarkan penjelasan asatidz, dan konsisten muraja’ah, kamu sudah memenuhi syarat pertama ini.
2. Hirsin (Ketamakan/Semangat yang Tinggi)
"Tamak" biasanya berkonotasi negatif, tapi dalam menuntut ilmu, kita justru wajib tamak! Artinya, kita tidak boleh cepat puas dengan apa yang sudah diketahui. Selalu haus akan ilmu, semangat menghadiri majelis, dan tidak malas saat halaqah Qur'an adalah kunci utamanya.
3. Wasthibarin (Kesabaran)
Jalan menuntut ilmu itu panjang dan penuh ujian yang berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi santri penghafal quran ujiannya bisa jadi terkadang jenuh menghafal, kadang ngantuk saat setoran, atau capek dengan jadwal sekolah. Di sinilah pentingnya sabar. Tanpa kesabaran, seorang penuntut ilmu akan gugur di tengah jalan sebelum merasakan manisnya buah ilmu.
4. Bulghatin (Bekal)
Mencari ilmu itu butuh modal. Bekal tidak melulu soal uang yang banyak, tapi kecukupan untuk membeli kitab, alat tulis, atau kuota internet untuk belajar. Yang paling penting, pastikan bekal yang digunakan bersumber dari sesuatu yang halal agar membawa keberkahan pada hafalan dan pemahaman kita.
5. Irsyadi Ustazin (Petunjuk Guru)
Ilmu agama tidak bisa dipelajari otodidak lewat media sosial saja; kita butuh bimbingan guru. Guru (asatidz) berfungsi sebagai kompas agar pemahaman kita tidak melenceng. Hormati guru, taati nasihatnya, dan jangan pernah merasa lebih tahu di hadapan mereka jika ingin ilmumu mengalirkan berkah.
6. Thuli Zamanin (Waktu yang Lama)
Instan itu cuma buat mi rebus, bukan buat ilmu. Menguasai suatu fan ilmu atau menghafalkan Al-Qur'an butuh proses bertahun-tahun. Jadi, jangan terburu-buru ingin langsung jadi ulama atau hafizh dalam semalam. Nikmati setiap proses belajarmu selama di SMP Quran Al-Muanawiyah.
Ilmu yang berkah adalah ilmu yang diamalkan. Dengan mempraktikkan enam nasihat dari Kitab Al-Ala di atas, insyaAllah aktivitas belajar dan menghafal Qur'an kita di sekolah tidak akan sia-sia, melainkan menjadi ladang pahala yang terus mengalir.