Adab-Adab Membaca Al-Qur'an yang Wajib Kita Amalkan
Al-Quran bukan sekadar deretan teks biasa. Ia adalah Kalamullah—perkataan Allah SWT yang diturunkan sebagai petunjuk hidup manusia. Sebagai santri dan keluarga besar SMP Quran Al-Muanawiyah, berinteraksi dengan Al-Quran adalah agenda sehari-hari.
Namun, tahukah kamu? Agar bacaan kita berbuah pahala maksimal dan mendatangkan keberkahan, ada tata krama atau adab yang harus kita penuhi. Membaca Al-Quran tanpa adab ibarat bertamu tanpa sopan santun.
Berikut adalah beberapa adab utama dalam membaca Al-Quran beserta dalil-dalil sahihnya yang wajib kita ketahui dan amalkan:
1. Ikhlas Karena Allah SWT
Sebelum membuka mushaf, tata kembali niat di dalam hati. Membaca Al-Quran harus murni karena ingin mengharap rida Allah, bukan untuk dipuji sebagai "qari yang hebat" atau sekadar mengejar target hafalan tanpa ruh.
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar)
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Baca juga : Adab Menanggapi Berita Berdasarkan Surah Al-Hujurat
2. Bersuci (Berwudu) dan Menjaga Kebersihan
Mengingat yang kita baca adalah kitab yang suci, maka kesucian fisik adalah hal yang utama. Sangat dianjurkan untuk berwudu terlebih dahulu dan bersiwak (membersihkan mulut).
لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ
Tidak ada yang menyentuhnya (Al-Qur'an) kecuali hamba-hamba yang disucikan.
(QS. Al-Waqi'ah: 79)
Rasulullah SAW juga bersuara tegas dalam hadisnya:
Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali engkau dalam keadaan suci.
(HR. Al-Hakim)
3. Membaca Taawudz dan Basmalah
Memulai tilawah harus diawali dengan memohon perlindungan Allah dari godaan setan. Setan sangat berkepentingan membuat kita mengantuk, tidak fokus, atau malas saat membaca Al-Quran.
Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.
(QS. An-Nahl: 98)
4. Membaca dengan Tartil (Perlahan dan Jelas)
Jangan terburu-buru hanya karena ingin cepat khatam. Bacalah dengan tenang, penuhi hak-hak hurufnya (makhorijul huruf), dan terapkan hukum tajwidnya dengan benar.
...Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil).
(QS. Al-Muzzammil: 4)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa membaca dengan tartil akan membantu seseorang untuk memahami dan mentadaburi makna Al-Quran.
Baca juga : Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’limul Muta’allim
5. Mentadaburi (Meresapi) Makna Ayat
Al-Quran diturunkan untuk dipahami, bukan sekadar dilewati di tenggorokan. Cobalah untuk membaca terjemahannya, dan menghayati setiap pesan-Nya, setiap kabar gembira, hingga peringatan-pertingatan-Nya.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan (merenungkan) Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?
(QS. Muhammad: 24)
6. Membaca dengan Suara yang Indah (Tetapi Tidak Berlebihan)
Menghias Al-Quran dengan keindahan suara kita dapat menambah kekhusyukan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain yang mendengarnya. Namun ingat, jangan sampai merusak hukum tajwid demi mengejar cengkok nada.
Rasulullah SAW bersabda:
Hiasilah Al-Quran dengan suaramu.
(HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i)
Membaca Al-Quran dengan memperhatikan adab-adab di atas adalah cerminan dari ketakwaan hati kita. Jangan sampai kita rajin membaca, namun tidak mendapatkan apa-apa selain lelah di tenggorokan karena mengabaikan adab dan maknanya.